Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, tengah memperkuat citra kota melalui konsep city branding yang berbasis pada pengalaman (experience) dan diplomasi ekonomi. Langkah ini diumumkan dalam sebuah pertemuan di Batam, yang menjadi simbol bahwa kota‑kota kecil dan terpinggir justru mulai berani menghadirkan narasi baru di tengah dominasi kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan kota industri besar lainnya. City branding yang dibangun Kupang tidak hanya soal slogan atau logo, tetapi tentang bagaimana kota tersebut ingin dikenal oleh investor, wisatawan, serta masyarakat global.
Secara kritis, pendekatan branding berbasis “experience” yang dicanangkan Kupang menunjukkan keberanian untuk memposisikan kota sebagai destinasi yang menyenangkan, bukan sekadar area transit atau tempat menyinggung sebentar. Dengan menonjolkan pengalaman—seperti wisata alam, budaya lokal, serta interaksi dengan masyarakat—Kupang berusaha menarik wisatawan yang mencari sesuatu yang otentik, bukan hanya sekadar “checklist spot wisata”. Namun, di balik antusiasme ini ada pertanyaan besar: apakah pengalaman yang dijanjikan benar‑benar tersedia dalam kenyataan, atau hanya sekadar narasi marketing yang menggambarkan Kupang secara idealis?[
Secara konkret, “experience‑based branding” akan mengandalkan kekuatan budaya NTT, seperti festival adat, seni tradisional, kuliner lokal, serta keindahan alam pantai dan laut yang masih relatif baru bagi wisatawan internasional. Namun, tantangannya adalah kesiapan infrastruktur: layanan angkutan, akomodasi, sanitasi, serta kualitas pelayanan pelaku usaha pariwisata. Jika standar kualitas masih rendah, maka pengalaman wisatawan dapat sangat bertentangan dengan citra yang ingin dibangun, sehingga city branding justru berubah menjadi ironi bagi masyarakat setempat dan pelancong.
Di sisi lain, narasi diplomasi ekonomi yang dibawa Kupang dari perhelatan di Batam menunjukkan ambisi untuk menempatkan kota ini sebagai destinasi investasi dan perdagangan, bukan sekadar kota seremonial. Diplomasi ekonomi ini mengandalkan jaringan antar kota, kerja sama dengan pemerintah pusat, serta perluasan komunikasi dengan pihak swasta. Namun, kritik terbesar terhadap konsep ini adalah bahwa sering kali diplomasi ekonomi lebih menguntungkan pihak investor besar, sedangkan masyarakat lokal hanya menjadi penonton biasa. Jika Kupang ingin benar‑benar berhasil, keberhasilan diplomasi ekonomi harus diukur bukan hanya dari jumlah investor yang datang, tetapi juga dari peningkatan kesejahteraan rakyat, terutama pedagang kecil, nelayan, dan petani.
Selain itu, program city branding yang berbasis experience dan diplomasi ekonomi membutuhkan keterlibatan masyarakat untuk tetap autentik. Jika semua dibuat sangat “tersistimasi”, dipaksa untuk “manis” dan “Instagramable”, maka roh budaya asli dapat tergerus dan kehilangan keasliannya. Dalam konteks ini, Kupang berada di garis tipis antara memanfaatkan budaya sebagai alat promosi, dan menghormati budaya sebagai bagian dari identitas yang tidak boleh dikomersialisasi secara berlebihan.
Di tengah semua ini, pembahasan mengenai city branding Kupang juga menjadi ajakan bagi masyarakat lokal untuk ikut serta dalam pembangunan citra kota. Mereka bukan hanya sebagai “figuran” di dalam foto promosi, tetapi sebagai aktor aktif yang dapat mengontrol narasi, menjaga keberlanjutan lingkungan, serta memastikan bahwa keuntungan ekonomi tidak hanya dirasakan oleh sebagian kecil élite. Dengan cara ini, pengalaman yang dijanjikan kepada wisatawan dan investor akan benar‑benar menggambarkan keindahan, semangat, serta keberagaman masyarakat Kupang, bukan hanya sekadar produk foto yang dibuat untuk konsumsi media.[/p]
Secara keseluruhan, langkah Kupang untuk mendorong city branding yang berbasis pada pengalaman dan diplomasi ekonomi dari Batam adalah langkah penting untuk menempatkan kota ini sebagai pusat daya tarik baru di Indonesia Timur. Namun, keberhasilannya bukan hanya ditentukan oleh kepiawaian pemasaran, tetapi juga oleh komitmen terhadap keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat, serta kehormatan budaya lokal. Jika semua elemen ini berjalan seimbang, Kupang bukan hanya menjadi simbol “kota branding baru”, tetapi juga simbol pembangunan kota yang berbasis empati dan keberlanjutan pada masa depan.